Minggu, 05 Juni 2016

Widoro, Radio Kabel Pemersatu kawasan Malioboro

 Bagi warga yang beraktivitas di Malioboro, radio Widoro sudah bukan nama yang asing. Lewat radio yang hanya bisa didengarkan di sepanjang Malioboro ini mereka mendapatkan berbagai informasi seputar Malioboro. Para pengunjung pun banyak terbantu oleh keberadaan radio yang mengudara melalui sambungan kabel ini.



“Sugeng siang Kangmas Mbakyu Widoro selamat beraktivitas di siang yang cerah ini,” sapa Yuni Nurul Fitriana, salah satu penyiar yang sudah mengudara bersama radio Widoro sejak awal berdirinya akhir 2012 silam. Bersama lima orang penyiar lainnya, Yuni mengelola radio yang berada di bawah komando UPT Malioboro ini.

Radio Wisata Budaya Malioboro (Widoro) sebenarnya didirikan untuk memberikan fungsi yang sama dengan bagian informasi di pusat perbelanjaan modern. Supaya tak terkesan kaku, enam orang penyiar dilibatkan untuk mengelolanya. Hasilnya adalah pusat informasi Malioboro dengan gaya siaran khas radio yang akrab.

Sapaan “Kangmas Mbakyu Widoro” pun tercipta untuk menyapa pendengar yang kebanyakan besar merupakan warga Malioboro. Sapaan itu menurut Yuni masih bisa dimodifikasi. Untuk menyambut rombongan wisatawan misalnya kata “Widoro” dalam sapaan itu diubah dengan asal rombongan wisatawan. Sementara untuk menyapa pendengar secara personal, panggilan khas Jogja Kangmas dan Mbakyu tetap dipertahankan.

“Jadi yang mendengar itu senang, misalnya ada rombongan siswa SMA datang dan kita sebut nama SMAnya, mereka akan terkesan dan ingat dengan Malioboro,” beber Yuni.
Seperti radio swasta pada umumnya, Radio Widoro juga membuka kesempatan bagi pendengarnya untuk request lagu dan saling berkirim salam antar pedagang. Lagu-lagu campursari dan langgam Jawa menjadi yang paling populer diminta oleh pendengar. Di malam hari pilihan lagu bergeser menjadi tembang-tembang pop Indonesia dan nostalgia.

“Kita menyesuaikan pendengarnya juga, kalau pagi sampai sore radio ini banyak didengar pedagang. Malam hari gantian pengunjung lesehan yang mendengarkan, lagunya juga berbeda,” imbuh penyiar yang bertanggungjawab terhadap produksi program siaran ini.
Gaya siaran bagian informasi yang santai itu rupanya benar-benar meninggalkan kesan bagi pendengarnya. Yuni menuturkan ada saja pedagang kawasan Malioboro yang mendadak datang baik sekadar main atau justru membawa makanan. Hal-hal sederhana itu menurutnya membuat dirinya senang karena berarti radionya diperhatikan pengunjung.

Meskipun mirip dengan radio konvensional bukan berarti Widoro melupakan alasan mereka ada. Krisna Murti, penyiar yang juga membidangi divisi Program Widoro menuturkan pada dasarnya mereka tetaplah pusat informasi. Jadi sewaktu-waktu siaran mereka bisa dihentikan saat ada informasi mendadak masuk.
Untuk segala informasi ini, mereka berkoordinasi dengan petugas Jogoboro yang ada di lapangan. Sebuah HT ada di kabin siaran dan selalu dalam kondisi menyala sehingga informasi yang masuk bisa segera mereka sampaikan ke pengunjung dan warga Malioboro. Infonya beragam, mulai dari imbauan untuk waspada copet, pengumuman kehilangan, keluarga yang terpisah sampai info harga barang di Malioboro.
“Kalau teman Jogoboro menemukan barang tertinggal, nanti akan dikomunikasikan lewat HT ini, kami akan mengumumkannya,” kata dia.

Bila sudah berkaitan dengan barang hilang atau keluarga yang terpisah, Krisna mengaku senang saat apa yang dicari bisa ditemukan. Saat itulah dia merasa keberadaan radio ini bisa memberikan peran penting bagi warga yang ada di Malioboro.
“Tapi nyeseknya kalau masih saja ada yang kecopetan padahal kami baru saja mengumumkan untuk waspda. Rasanya seperti gagal melindungi pengunjung yang datang,” tandas dia.

rujukan : http://www.harianjogja.com/baca/2016/06/04/keistimewaan-diy-widoro-radio-kabel-pemersatu-malioboro-725852

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.